Kamis, 16 Januari 2014

Maaf... belum saatnya...






Udah gak kehitung berapa kali aku mimpiin kampung halaman, terlebih-lebih mimpiin orang tua tercinta. Saking kangennya sama kampung halaman, selama seminggu belakangan ini pikiran jadi gak fokus. Bahkan ketika sholat pun, masih terbayang-bayang kampung halaman yang begitu dirindukan. 

Sudah hal yang wajar jika pemuda minang “amatiran” seperti aku merasa rindu akan kampung halaman. Suasana kota yang bener-bener ngangenin, apalagi kalo udah ngebahas soal makanan (beh... bener-bener dah..). Terlebih-lebih kangen sama budaya minang, termasuk bahasa minangnya itu sendiri, soalnya didaerah rantau agak jarang gimana gitu ngomong pakai bahasa minang (ya iyalah...).

 Seharusnya liburan semester gasal ini, kami dapet jatah libur sampai tanggal 5 februari. Ini kesempatan yang paling ditunggu-tunggu sejak sebulan yang lalu, bahkan saya dan teman-teman minang lainnya sudah merencakan perjalanan pulang sedemikian apiknya,  seakan-akan ini sebuah perencanaan misi rahasia yangmana saya sebagai konseptornya (Wualah..bahasanya...). 
 
Saya sudah mengajukan kepada teman-teman minang lainnya untuk mudik naik kereta lalu disambung dengan pesawat, tujuannya agar lebih berasa perjalanan dan kebersamaannya. Pada akhirnya mereka menyetujui rencana ini, dan antusias kami semakin menggebu-gebu, tidak sabar menuggu satu bulan lagi. :)

Seiring dengan proses pencarian tiket pesawat yang “sesuai” kriteria kami, pikiran ini udah mulai membayangkan bagaimana hiruk-pikuk kota Padang tercinta (kujaga dan kubela). Sudah terbayang sejuknya pagi hari di kota Padang, bahkan hingga jam delapan pagi pun terkadang masih terasa sejuk, tidak seperti di tanah rantau ini, sekitar jam enam pagi saja, panas matahari perlahan mulai eksis, eksis... dan semakin eksis hingga akhirnya terasa cukup panas (terlalu berlebihan, haha..).

Tempat yang paling ku rindukan di kota Padang yaitu rumah, terkhususkan kamarku. Bisa kubayangkan, tiap pagi sekitar jam 7, aku menikmati pemandangan luar jendela kamar, sembari memutar lagi favorit ku, Yiruma – Wait There, apalagi kalo lagi hujan, wah itu bener-bener nyaman banget, sampe-sampe mau rebahan dikasur, hingga akhirnya takalok.
 
Dan benda yang paling aku rindukan di Padang yaitu gitar akustik. Berbeda dengan PC, jika berlama-lama dengan gitar akustik, lima jam tidak akan terasa cukup, namun jika lebih dari 3 jam didepan PC, rasanya sangat menjenuhkan. Hal tersebut tidak mengindikasikan kalo diri ini seorang expert dalam musik, bahkan sebaliknya, masih sebatas level pemula dalam bermusik (Ah.. gak penting, lupakan..).

Ok, begitu banyak kenangan yang tersimpan rapi dalam memori ku, hal ini memberikan ku semangat untuk berjuang sedikit lebih lagi menghadapi ujian akhir, karena setelah itu, saatnya go home. Ketika mencoba membolak-balikan buku untuk persiapan ujian, terlintas dibenak akan kenangan di masa-masa SMA, rasanya bener-bener udah gak sabar mudik ke Padang. :)

2 minggu berlalu.., ketika aku telah menemukan tiket pesawat yang cocok sesuai kriteria kami, seorang teman dari jurusan ku menanyakan kepastian kepulanganku, “Yakin kamu mau pulang ke Padang ?”. Butuh jeda beberapa detik untuk ku berpikir sejenak, maka dengan tekad bulat semangat didada (lebay...) aku jawab, “Ya, yakin kok..”. Namun keyakinan tersebut ternyata tidak bertahan cukup lama.


Semenjak pertanyaan tersebut dilontarkan, pikiran ku mulai terpengaruh, mungkin semacam konspirasi (Oalaaah.. konspirasi opo toh ?). Mulai bimbang, ragu-ragu akan keputusan yang telah diambil. Berusaha berpikir lebih dalam lagi, apakah aku benar-benar akan pulang ?. Sejujurnya, ada hal penting yang harus dilakukan di tanah rantau ini selama liburan semester gasal, yang jatah liburannya cuma sekitar tiga minggu ini (Haa... Cuma ??). 

Semakin dipertimbangkan semakin gundah rasanya. Ini pilihan yang cukup berat, yang pasti tidak akan seberat memilih pasangan hidup (hehe..). Tapi ini serius, aku tidak akan bisa sendirian memutuskan perkara ”sepele” ini, maka ku pikir ada baiknya berdiskusi dengan kakak perempuan ku, Uni.

Yuups, tanpa menanyai pendapat Uni pun, sejujurnya aku udah bisa menerka, pasti jawabannya, “Pulang aja, yakin deh.. rugi gak pulang..!!”. Diskusi yang cukup alot, memakan waktu sekitar 45 menit, membuat kuping ini terasa sedikit panas, mungkin karena terlalu lama menempel dengan speaker hp. Aku menjelaskan semuanya, dari A sampai Z, hingga akhirnya Uni menyarankan untuk pulang kampung aja, “Mahasiswa itu butuh banget refreshing, gak kangen orang tua ?”. Sebuah pertanyaan klasik, yang tidak membutuhkan jawaban lagi. Diakhir pembicaraan aku mengatakan, “Harus istikharah dulu deh kayaknya, Ni..”.

Sejujurnya, aku sangat ingin pulang kampung, ingin reunian dengan teman-teman minang, silaturahim dengan guru-guru, dan ber-nostalgila , namun ada sesuatu yang tidak bisa kutinggalkan di liburan semester gasal ini. Sesuatu yang sangat penting, yangmana diri ini akan sangat menyesal jika melepaskannya. Namun, disisi lain, kerinduan akan kampung halaman begitu kuat.

Minggu-minggu ujian akhir pun tiba,  dan akhirnya pun intensitas aku ke Asrama Mahasiswa jadi lebih sering, karena kami (mahasiswa minang) sudah terbiasa dengan budaya Baraja Basamo. Baraja basamo jauh lebih nyaman ketimbang dikasih tutor oleh senior, oleh karena itu aku rela nyelinap ke Asrama  Mahasiswa layaknya maling kampung, bahkan sampai nginep. :D

Semua pertanyaan yang mereka ajukan ketika melihat diriku baru datang, rata-rata hampir sama, “Bilo jadinyo baliak ka Padang ?“. Sebuah pertanyaan yang sangat menohok, kalo dianalogikan, keadaan ku disekitar mereka seperti seorang yang patah cinta lalu berkumpul dengan orang-orang yang tiada henti-hentinya membahas percintaan mereka (Nyesek..). Namun mereka menanti jawaban dariku, maka aku jawab, “rencananyo tanggal 22”. Secara tata bahasa, aku yakin tidak terjerumus dalam kebohongan atau bahasa kerennya penipuan publik, karena sebelum-sebelumnya aku memang berencana untuk mudik ke Padang tanggal 22, meski akhirnya dipending sampai liburan ramadan tahun ini (In Shaa Allah).

Hingga tiba saatnya mengatakan kepada orangtua, kalo aku mau pending rencana liburan semester gasal tahun ini. Cukup berat rasanya, karena aku tau betul kalo mereka ingin aku balik ke Padang. Sebelum-sebelumnya, tiap kali kami menelfon, mereka selalu menanyakan, “Kapan balik ke Padang ?”. Jujur saja, aku tidak ingin tergolong sebagai anak yang nge-PHPin orang tua (Tau apa loe tentang PHP, ha.. ?).

Setelah penjelasan panjang lebar, akhirnya mereka setuju dengan rencana ku untuk tidak pulang liburan kali ini, meski aku tahu ada rasa kekecewaan di hati mereka. Beberapa hari sebelumnya aku masih teringat ketika Mama menelfon ku, “Nak, bilo pulang ? Papa lah taragak tu ha mamasak an ayam balado kesukaan kamu”, tak tega rasanya mengatakan untuk tidak pulang liburan kali ini, tapi apa daya. Dan kalian tau apa lagi bagian tersedihnya ? Aku ngebuat tulisan ini sembari muter lagu minang favoritku, “Usah diratoki”, begitu pas rasanya dengan yang kurasakan malam ini.





Bonus dari saya ==>








Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Foto saya
Status : Mahasiswa Teknik Informatika